kondisional yaitu suatu situasi yang membuka
peluang, mengundang, bahkan memfasilitasi perilaku menyontek. Seseorang yang
memiliki nalar moral, yang tahu bahwa menyontek adalah perbuatan tercela,
sangat mungkin akan melakukannya apabila ia dihadapkan kepada kondisi yang
memaksa.
Mencegah menyontek tidaklah cukup dengan sekedar mengintervensi aspek kognitif
seseorang, akan tetapi yang paling penting adalah penciptaan kondisi positif
pada setiap faktor yang menjadi sumber terjadinya menyontek, yaitu pada faktor
siswa, pada lingkungan, pada sistem evaluasi dan pada diri guru.
Rabu, 11 Januari 2017
t
Meskipun demikian tak dapat disangkal bahwa
menyontek bisa membawa dampak negatif baik kepada individu, maupun bagi
masyarakat. Dampak negatif bagi individu akan terjadi apabila praktek menyontek
dilakukan secara kontinyu sehingga menjurus menjadi bagian kepribadian
seseorang.
Selanjutnya, dampak negatif bagi masyarakat akan terjadi apabila masyarakat telah menjadi terlalu permisif terhadap praktek menyontek sehingga akan menjadi bagian dari kebudayaan, dimana nilai-nilai moral akan terkaburkan dalam setiap aspek kehidupan dan pranata sosial.
Sebagai bagian dari aspek moral, maka terjadinya menyontek sangat ditentukan oleh faktor
Selanjutnya, dampak negatif bagi masyarakat akan terjadi apabila masyarakat telah menjadi terlalu permisif terhadap praktek menyontek sehingga akan menjadi bagian dari kebudayaan, dimana nilai-nilai moral akan terkaburkan dalam setiap aspek kehidupan dan pranata sosial.
Sebagai bagian dari aspek moral, maka terjadinya menyontek sangat ditentukan oleh faktor
y
Ø PENUTUP
1. KesimpulanMenyontek adalah salah satu wujud perilaku dan ekspresi mental seseorang. Ia bukan merupakan sifat bawaan individu, tetapi sesuatu yang lebih merupakan hasil belajar/pengaruh yang didapatkan seseorang dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, menyontek lebih sarat dengan muatan aspek moral daripada muatan aspek psikologis.
Dalam batas-batas tertentu menyontek dapat dipahami sebagai sesuatu fenomena yang manusiawi, artinya perbuatan menyontek bisa terjadi pada setiap orang sehingga asumsi di depan yang menyatakan bahwa ada korelasi antara perilaku menyontek di sekolah dengan perilaku kejahatan seperti korupsi di masyarakat adalah terlalu spekulatif dan sulit dibuktikan secara nalar ilmiah.
i
c. Orang tua/wali murid
Perlu diberi tahu tentang pentingnya
program melawan menyontek. Kalau semua sudah menyadari bahwa tidak ada
untungnya praktek menyontek, akan semakin lancar dalam perjalanan mebasmi
nyontek itu.
d. Guru Sekolah Dasar
Kerjasama yang erat antara sekolah baik lintas SD,SMP dan SMU/sederajat
untuk membvasmi program tersebut sangat penting, sehingga tidak ada ruang gerak
bagi anak untuk melakukan praktek kotor itu.
o
Setiap guru mengadakan ulangan, jika ada
anak yang berbuat kotor (nyontek,nurun dsb) harus cepat diambil tindakan, dan
jangan sampai timbul kesempatan berikutnya.
b. Murid
Sosialisasi perang melawan nyontek sama dengan
perang melawan narkoba. Pelan namun pasti kalau murid mengerti dan menyadari
akibat dari ngerpek, tentunya akan perlahan praktek kotor itu akan bisa hilang.
Kalau dari guru sudah tidak memberikan
kesempatan pada murid untuk melakukan praktek kotor itu, tentunya berdampak
langsung pada murid. Sedangan murid akan mulai bertindak sportif menerima
proses penyembuhan penyakit ini.
p
a. Guru
Masalah nyontek dimanapun sekolahan
pasti ada, namun prosentasenya berpariasi, tergantung dari sekolah
masing-masing. Sekolah semakin kurang berkwalitas berindikasi prosentase anak
menyontek semakin besar, namun tidak semua benar, tergantung dari visi dan misi
serta gurunya masing-masing.
menghentikan praktek kotor ini
Dimulai dari guru harus bertindak
sportif dalam mengambil sangsi kalau ada pelanggaran, merupakan langkah
pertama.
a
Apakah para siswa mengetahui kerugiaan
dan dampak buruk kebiasaan
menyontek ?
Tahu. Mereka tahu dampak buruk dan
kerugian menyontek. Tetapi, mereka tetap melakukan kebiasaan tersebut.
Dampak buruk dan kerugiannya, antara
lain :
5.3 Pemecahan Masalah
Masalah – masalah tersebut dapat
terselesaikan dengan cara :
Untuk memulai menghentikan perbuatan
menyontek kita perlu mensosialisasikan kepada semua pihak yang terkait yaitu :
s
dengan cara yang canggih, dari sesuatu yang
sangat tercela sampai kepada yang mungkin dapat ditolerir, ”menyontek” tetap
dianggap oleh masyarakat umum sebagai perbuatan ketidakjujuran, perbuatan curang
yang bertentangan dengan moral dan etika serta tercela untuk dilakukan oleh
seseorang yang terpelajar.
Berdasarkan uraian di atas maka yang dimaksud dengan “menyontek” dalam tulisan ini adalah segala perbuatan atau trik-trik yang tidak jujur, perilaku tidak terpuji atau perbuatan curang yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai keberhasilan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik terutama yang terkait dengan evaluasi/ujian hasil belajar.
Berdasarkan uraian di atas maka yang dimaksud dengan “menyontek” dalam tulisan ini adalah segala perbuatan atau trik-trik yang tidak jujur, perilaku tidak terpuji atau perbuatan curang yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai keberhasilan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik terutama yang terkait dengan evaluasi/ujian hasil belajar.
d
Ternyata praktik “menyontek” banyak macamnya,
dimulai dari bentuk yang sederhana sampai kepada bentuk yang canggih. Teknik
“menyontek” tampaknya mengikuti pula perkembangan teknologi, artinya semakin
canggih teknologi yang dilibatkan dalam pendidikan semakin canggih pula bentuk
”menyontek” yang bakal menyertainya. Bervariasi dan beragamnya bentuk perbuatan
yang dapat dikategorikan sebagai “menyontek” maka sekilas dapat diduga bahwa
hampir semua pelajar pernah melakukan ”menyontek” meskipun mungkin wujudnya
sangat sederhana dan sudah dalam kategori yang dapat ditolerir.
Meskipun demikian dapat dikatakan bahwa apapun bentuknya, dengan cara sederhana ataupun
Meskipun demikian dapat dikatakan bahwa apapun bentuknya, dengan cara sederhana ataupun
f
yang sering terjadi dalam UMPTN/SMPTN, memberi
lilin atau pelumas kepada lembaran jawaban komputer atau menebarkan atom magnit
dengan maksud agar mesin scanner komputer dapat terkecoh ketika membaca lembar
jawaban sehingga gagal mendeteksi jawaban yang salah atau menganggap semua
jawaban benar, dan banyak lagi cara-cara yang sifatnya spekulatif maupun
rasional.
Dalam tingkatan yang lebih intelek, sering kita dengar plagiat karya ilmiah seperti dalam wujud membajak hasil penelitian orang lain, menyalin skripsi, tesis, ataupun desertasi orang lain dan mengajukannya dalam ujian sebagai karyanya sendiri.
Dalam tingkatan yang lebih intelek, sering kita dengar plagiat karya ilmiah seperti dalam wujud membajak hasil penelitian orang lain, menyalin skripsi, tesis, ataupun desertasi orang lain dan mengajukannya dalam ujian sebagai karyanya sendiri.
g
Dalam konteks pendidikan atau sekolah, beberapa
perbuatan yang termasuk dalam kategori menyontek antara lain adalah meniru
pekerjaan teman, bertanya langsung pada teman ketika sedang mengerjakan
tes/ujian, membawa catatan pada kertas, pada anggota badan atau pada pakaian
masuk ke ruang ujian, menerima dropping jawaban dari pihak luar, mencari
bocoran soal, arisan (saling tukar) mengerjakan tugas dengan teman, menyuruh
atau meminta bantuan orang lain dalam menyelesaikan tugas ujian di kelas
ataupun take home test.
Dalam perkembangan mutakhir “menyontek” dapat ditemukan dalam bentuk perjokian seperti kasus
Dalam perkembangan mutakhir “menyontek” dapat ditemukan dalam bentuk perjokian seperti kasus
h
Abdullah Alhadza dalam Admin (2004) mengutip
pendapat dari Bower (1964) yang mendefinisikan “cheating is manifestation of
using illigitimate means to achieve a legitimate end (achieve academic success
or avoid academic failure),” maksudnya “menyontek” adalah perbuatan yang
menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang sah/terhormat yaitu
mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis. Pendapat
Bower ini juga senada dengan Deighton (1971) yang menyatakan “Cheating is
attempt an individuas makes to attain success by unfair methods.” Maksudnya,
cheating adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan
dengan cara-cara yang tidak jujur.
j
Ø LANDASAN
TEORI
Ø 1.
Pengertian Menyontek
1.1. Menurut AhliPengertian menyontek atau menjiplak menurut Purwadarminta sebagai suatu kegiatan mencontoh/meniru/mengutip tulisan, pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya. Cheating (menyontek) menurut Wikipedia Encyclopedia sebagai suatu tindakan tidak jujur yang dilakukan secara sadar untuk menciptakan keuntungan yang mengabaikan prinsip keadilan. Ini mengindikasikan bahwa telah terjadi pelanggaran aturan main yang ada.
k
·
·
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu :
a. Secara teoritis manfaat dari karya ilmiah ini yaitu memberikan penjelasan pada pembaca tentang hakikat menyontek.
b. Diharapkan kepada siswa agar lebih percaya diri sahingga tidak lagi menyontek setelah mengetahui dampak-dampak menyontek.
1.5. Batasan MasalahAdapun manfaat dari penelitian ini yaitu :
a. Secara teoritis manfaat dari karya ilmiah ini yaitu memberikan penjelasan pada pembaca tentang hakikat menyontek.
b. Diharapkan kepada siswa agar lebih percaya diri sahingga tidak lagi menyontek setelah mengetahui dampak-dampak menyontek.
Batasan masalah dalam penelitian ini yaitu hanya untuk mengetahui sejauh mana penyontek dapat mempengaruhi prestasi siswa SMA Negeri 18 Makassar kelas X.1.
l
c.
Sejauh mana menyontek dapat mempengaruhi prestasi siswa kelas 9 SMPN 1 Genteng.?
d. Apakah budaya menyontek dapat hilang dari dalam diri siswa SMPN 1 Genteng.?
d. Apakah budaya menyontek dapat hilang dari dalam diri siswa SMPN 1 Genteng.?
Tujuan penulis mengangkat masalah ini yaitu :
a. Mengetahui prestasi siswa SMPN 1 Genteng secara keseluruhan.
b. Mengetahui dan membandingkan keinginan belajar setiap siswa SMPN 1 Genteng.
c. Mengetahui dampak-dampak dari menyontek.
z
Untuk
itu penulis mengangkat masalah “Budaya Menyontek Sebagai Pengaruh Prestasi
Siswa” karena penulis merasa prihatin dengan kondisi pendidikan dewasa ini yang
kurang efektif dalam mengawasi siswa yang gemar menyontek sehingga tercipta
suatu generasi bobrok masa depan.
·
1.2. Rumusan Masalah
Dalam karya tulis ini,
penulis akan membahas mengenai pengertian menyontek, menyontek sebagai budaya
dalam pendidikan khususnya bagi siswa SMPN 1 Genteng.a. Apakah menyontek dapat mempengaruhi prestasi siswa kelas 9 SMPN 1 Genteng?
b. Mengapa siswa kelas 9 SMPN 1 Genteng.?
x
suatu peristiwa yang penulis saksikan seorang
juara kelas dibuat malu oleh gurunya karena dicurigai menyontek atau bekerja
sama. Padahal menurut penulis waktu itu tidak mungkin seorang juara kelas
menyontek, pasti jawabannya yang dicontek teman-teman yang lain sehingga
jawaban mereka sama semua.
Dan masih di SMPN 1 Genteng, ada seorang anak yang nilainya pas-pasan pada semerter pertama, dan mendapat rangking 25 dari 30 siswa, tiba-tiba masuk sepuluh besar di kelas itu disebabkan ketika ulangan umum semester kedua ia duduk sebangku dengan juara kelas. Apa ini adil dan objektif?
Dan masih di SMPN 1 Genteng, ada seorang anak yang nilainya pas-pasan pada semerter pertama, dan mendapat rangking 25 dari 30 siswa, tiba-tiba masuk sepuluh besar di kelas itu disebabkan ketika ulangan umum semester kedua ia duduk sebangku dengan juara kelas. Apa ini adil dan objektif?
c
Kata-kata “mendingan hasil sendiri walau jelek
daripada nilai bangus dari pada hasil menyontek”, sepertinya sudah kehilangan
makna. Begitu banyak yang mengungkapkan kata-kata manis itu tapi tetap saja
tidak menggoyahkan hati para penyontek.
Sudah dimaklumi bahwa orientasi belajar siswa-siswi di sekolah hanya untuk mendapatkan nilai tinggi dan lulus ujian, lebih banyak kemampuan kognitif dari efektif dan psikomotor, inilah yang membuat mereka mengambil jalan pintas, tidak jujur dalam ujian atau melakukan praktek menyontek.
Sudah dimaklumi bahwa orientasi belajar siswa-siswi di sekolah hanya untuk mendapatkan nilai tinggi dan lulus ujian, lebih banyak kemampuan kognitif dari efektif dan psikomotor, inilah yang membuat mereka mengambil jalan pintas, tidak jujur dalam ujian atau melakukan praktek menyontek.
c
terlapas dari beban tertentu, tapi jika hal ini
tidak segera diubah mereka kedepannya akan menjadi pecundang. Pada dasarnya
sebuah sistem ujian dilakukan untuk mengukur sejauh mana kemampuan siswa pada
suatu materi yang diajarkan untuk menghargai nilai dari kejujuran dan mental
yang kuat ketika berada dalam suasana ujian.
Guru sebenarnya tahu mana siswa yang benar-benar pintar sehingga tahu mana nilai yang hasil kejujuran dari otak atau kecurangan. Tapi, apalah daya banyak guru yang mengambil nilai sepenuhnya dari ulangan, tidak peduli mau menyontek atau tidak. Dalam hal ini kasihan sekali yang jujur tapi mendapat nilai sama atau lebih kecil dari yang menyontek.
Guru sebenarnya tahu mana siswa yang benar-benar pintar sehingga tahu mana nilai yang hasil kejujuran dari otak atau kecurangan. Tapi, apalah daya banyak guru yang mengambil nilai sepenuhnya dari ulangan, tidak peduli mau menyontek atau tidak. Dalam hal ini kasihan sekali yang jujur tapi mendapat nilai sama atau lebih kecil dari yang menyontek.
v
Di SMPN 1 Genteng hampir semua kalangan melakuka hal ini dan didominasi
oleh kalangan siswa-siswi nya. Kalau kita perhatikan, menyontek sudah bukan hal
yang tabu dan terlarang buat mereka. Cukup sering terdengar ditempat-tempat
publik seperti angkutan umum, para pelajar yang baru selesai ujian
membicarakannya dengan penuh semangat dan tanpa malu-malu mengenai aksi
menyontek yang mereka barusan lakukan ditengah ujian misalnya bagaimana
mengelabui guru pengawas dan trik menyontek yang mereka lakukan.
Ironisnya ketika hasil ujian dibagikan mereka malah terlihat bangga akan nilai bagus yang mereka dapat. Mereka secara psikologis mendapat kepuasan tertentu dan bisa mendapatkan kebebasan karena
Ironisnya ketika hasil ujian dibagikan mereka malah terlihat bangga akan nilai bagus yang mereka dapat. Mereka secara psikologis mendapat kepuasan tertentu dan bisa mendapatkan kebebasan karena
v
lain ).
Dalam Kamus Modern Bahasa Indonesia
istilah menyontek memiliki pengertian yang hampir sama yaitu “ Tiru hasil
pekerjaan orang lain”. Maka dapat disimpulkan menyontek dalam pelaksanaan ujian
adalah mengambil jawaban soal – soal ujian dari cara – cara yang tidak
dibenarkan dalam tata tertib ujian seperti : dari buku, catatan, hasil
pemikiran temannya dan media lain yang kemudian disalin pada lembar jawaban
ujian pada saat ujian berlangsung.
b
Ø PENDAHULUAN
·
1.1. Latar Belakang Masalah
Menyontek memiliki arti yang
beraneka macam, akan tetapi biasanya dihubungkan dengan kehidupan sekolah,
khususnya bila ada ulangan dan ujian. Biasanya usaha menyontek dimulai pada
waktu ulangan dan ujian akan berakhir, namun demikian tidak jarang usaha
tersebut telah dimulai sejak ujian dimulai.
Walaupun kata menyontek telah dikenal, sejak lama
namun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata tersebut tidak dapat ditemukan
secara langsung, kata menyontek baru ditemukan pada kata jiplak menjiplak yaitu
mencontoh atau meniru ( tulisan pekerjaan
n
Demikian yang dapat kami sampaikan, kritik dan saran
dari pembaca yang membangun sangat kami harapkan untuk kesempurnaan karya tulis
ini sebagai bahan pijakan di kemudian hari.
Harapan penulis, semoga karya tulis ini
bermanfaat dan menjadi bahan bacaan bagi kita.
Daftar
isi
m
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Allah Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga penyusun
dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “Kebiasaan Menyontek pada
Siswa SMPN 1 Genteng”. Karya tulis ini disusun dalam rangka memenuhi tugas
tidak terstruktur mata pelajaran Bahasa Indonesia. Penyusun berterima kasih
kepada Bapak Alfiono selaku guru
pembimbing dalam penulisan karya tulis ini.
qqqq
1. Pendidikan Islam di Indonesia sejatinya
berlangsung sejak masuknya Islam di Indonesia dengan masjid sebagai pusat
peribadatan dan tempat belajar. Setelah penggunaan masjid cukup optimal, maka
muncullah pesantren yang kemudian menjadi akar pendidikan Islam di Indonesia.
2. Keberadaan pesantren senyatanya mendorong
lahirnya lembaga-lembaga pendidikan Islam lain setelah pesantren, di antaranya
madrasah, sekolah-sekolah Islam dan Perguruan Tinggi Islam.
3.
Dalam perjalanannya, lembaga-lembaga pendidikan Islam tak luput dari berbagai
dinamika yang ada, seiring dengan perkembangan zaman. Pesantren, dari jenis
pesantren tradisional ke pesantren modern. Madrasah yang semakin memperbaiki
kualitasnya dengan berbagai upaya, salah satunya peningkatan kualitas guru.
Dan, perguruan tinggi Islam yang dulunya masih berstatus Sekolah Tinggi,
berkembang menjadi Institut hingga akhirnya menjadi Universitas
wwww
perkembangan. Dinamika dalam pendidikan tinggi
Islam ini salah satunya dapat diraba dari perubahan status dari Sekolah Tinggi,
menjadi Institut, hingga kini menjadi Universitas. Dengan demikian, materi dan
bahan ajar yang ditawarkan di perguruan tinggi Islam yang kini mayoritas
menjadi Universitas, tidak hanya disiplin ilmu agama Islam saja, melainkan juga
berbagai disiplin ilmu umum.
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan pada paparan dan analisa di atas,
maka dapat disimpulkan bahwa:
eeee
Tak pelak, bahwa dinamika pendidikan Islam, di
samping kemadrasahan, juga muncul persekolahan yang lebih banyak mengadopsi
model sekolah barat. Dan, kemunculannya itu antara lain dipicu oleh kebutuhan
masyarakat muslim yang berminat mendapatkan pendidikan yang memudahkan memasuki
lapangan kerja dalam lembaga pemerintahan maupun lembaga swasta yang
mensyaratkan memiliki keterampilan tertentu, seperti teknik, perawat kesehatan,
administrasi dan perbankan.
Pada
perguruan tinggi Islam pun sejatinya juga mengalami berbagai perubahan dan
rrrr
teori pendidikan yang dirasa bisa diterapkan di
lingkungan pesantren. Alhasil, kini semakin banyak bermunculan pesantren
modern, yang dalam pola pembelajarannya tidak lagi konvensional, tapi lebih
modern dengan berbagai sentuhan manajemen pendidikan yang dinamis. Mayoritas
pesantren dewasa ini juga memberikan materi dan muatan pendidikan umum. Tidak
sedikit pesantren yang sekaligus memiliki lembaga sekolah dan manajemennya
mengacu pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sedangkan dinamika sistem pendidikan madrasah
dapat dicatat dari beberapa perubahan, seperti dimasukkannya mata pelajaran umum
dalam kurikulumnya, meningkatkan kualitas guru dengan memperhatikan syarat
kelayakan mengajar, membenahi manajemen pendidikannya melalui akreditasi yang
diselenggarakan pemerintah, mengikuti ujian negara menurut jenjangnya.
tttt
C. Dinamika
Pendidikan Islam di Indonesia
Tak dapat dipungkiri, bahwa seiring berjalannya
waktu, lembaga-lembaga pendidikan Islam juga mengalami berbagai dinamika. Tak
hanya pada pesantren, bahkan madrasah dan perguruan tinggi Islam pun tak luput
dari dinamika yang ada.
Pesantren
yang dulunya masih tradisional senyatanya mengalami beberapa perubahan dan
perkembangan, seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan
teknologi. Pesantren yang dulunya tradisional, dalam pola pembelajaran dan
muatan materi serta kurikulumnya, kini telah mengalami perkembangan dengan
mengadaptasi beberapa teori-
yyyy
Universitas Islam yang populer di Indonesia,
seperti misalnya Universitas Ibn Kholdun di Bogor, Universitas Muhammadiyah di
Surakarta, Universitas Islam Sultan Agung di Semarang, Universitas Islam Malang
(UNISMA) di Malang, Universitas Islam Sunan Giri (UNSURI) di Surabaya,
Universitas Darul ‘Ulum (UNDAR) di Jombang dan lain-lain.
Menurut Tolhah Hasan, perkembangan dan kemajuan
perguruan tinggi Islam di Indonesia banyak ditentukan oleh beberapa faktor di
antaranya: kredibilitas kepemimpinan, kreativitas manajerial kelembagaan,
pengembangan program akademik yang jelas dan kualitas dosen yang memiliki
tradisi akademik.
uuuu
. Pendidikan Tinggi Islam
Pendidikan
Tinggi Islam juga merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang modern.
Dalam sejarah, pendidikan tinggi Islam yang tertua adalah Sekolah Tinggi Islam
(STI), yang menjadi cikal bakal pendidikan tinggi Islam selanjutnya. STI
didirikan pada 8 Juli 1945 di Jakarta, kemudian dipindahkan ke Yogyakarta, dan
pada tahun 1948 resmi berganti nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII).
Selanjutnya, UII merupakan bibit utama dari perguruan-perguruan tinggi swasta
yang kemudian berkembang menjadi beberapa
iiii
Di samping madrasah, lembaga pendidikan Islam
yang berkembang hingga sekarang adalah sekolah-sekolah Islam. Pada dasarnya,
kata sekolah merupakan terjemah dari madrasah, hanya saja madrasah adalah kosa
kata bahasa Arab, sedangkan sekolah adalah bahasa Indonesia. Namun demikian,
pada aplikasinya terdapat perbedaan antara madrasah dan sekolah Islam. Madrasah
berada dalam naungan Kementrian Agama (Kemenag), sedangkan sekolah Islam pada
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Selain itu,dari segi bobot
muatan materi keagamaannya, madrasah lebih banyak materi agama dibanding
sekolah Islam.
oooo
Timur Tengah itulah yang kemudian akhirnya
menjadi pemrakarsa pendirian madrasah-madrasah di Indonesia.
Dalam madrasah, sistem pembelajaran tidak lagi
menggunakan sorogan ataupun bandongan, melainkan lebih
modern lagi. Madrasah telah mengaplikasikan sistem kelas dalam proses
pembelajarannya. Elemen yang ada dalam madrasah juga bukan lagi Kyai dan
santri, tetapi murid dan guru (ustad/ustadzah). Dan metode yang digunakan juga
beragam, bisa ceramah, atau drill dan lain-lain, tergantung pada ustad/ustadzah
atau guru.
b. Sekolah-sekolah Islam
pppp
Hingga kini, keberadaan pesantren telah
mengalami berbagai dinamika, sejak dari pesantren tradisional hingga pesantren
modern.
B. Lembaga-lembaga
pendidikan Islam setelah Pesantren
Eksistensi pesantren senyatanya mendorong
lahirnya lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya, antara lain:
a. Madrasah
Madrasah
merupakan lembaga pendidikan Islam yang lebih modern dibanding pesantren, baik
ditinjau dari sisi metodologi maupun kurikulum pengajarannya. Kendati demikian,
kemunculan madrasah ini tidak lain diawali oleh keberadaan pesantren. Sebagian
lulusan pesantren melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi ke beberapa pusat
kajian Islam di beberapa negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi dan Mesir.
Lulusan-lulusan Islam
aaaa
b. Sistem “bandongan” yang sering disebut
dengan sistem weton. Dalam sistem ini, sekelompok santri mendengarkan dan
menyimak seorang guru yang membacakan, menerjemahkan dan mengulas kitab-kitab
kuning. Setiap santri memperhatikan kitab masing-masing dan membuat catatan
yang dirasa perlu.
Kelompok bandongan ini jika jumlahnya tidak
terlalu banyak, maka disebut dengan halaqoh yang arti asalnya adalah lingkaran. Di
pesantren-pesantren besar, ada lagi sistem lain yang disebut musyawarah, yang diikuti
santri-santri senior yang telah mampu membaca kitab kuning dengan baik.
aaaa
e. Pondok,
sebagai tempat tinggal santri yang menampung santri selama mereka menuntut ilmu
dari Kyai.
Sedangkan dalam proses pembelajaran dan proses
pendidikan, di pesantren menggunakan dua sistem yang umum, yakni:
a. Sistem “sorogan” yang sifatnya individual,
yakni seorang santri mendatangi seorang guru yang akan mengajarkan kitab
tertentu, yang umumnya berbahasa Arab.
ssss
Menurut Muhammad Tolhah Hasan dalam bukunya
Dinamika Tentang Pendidikan Islam, disebutkan bahwa komponen-komponen yang ada
dalam pesantren antara lain:
a. Kyai,
sebagai figur sentral dan dominan dalam pesantren, sebagai sumber ilmu
pengetahuan sekaligus sumber tata nilai.
b. Pengajian
kitab-kitab agama (kitab kuning), yang disampaikan oleh Kyai dan diikuti
para santri.
c. Masjid,
yang berfungsi sebagai tempat kegiatan pengajian, disamping menjadi pusat
peribadatan.
d. Santri,
sebagai pencari ilmu (agama) dan pendamba bimbingan Kyai.
ddd
menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai
pedoman perilaku sehari-hari.
Pesantren sejatinya telah berkiprah di
Indonesia sebagai pranata kependidikan Islam di tengah-tengah masyarakat sejak
abad ke-13 M, kemudian berlanjut dengan pasang surutnya hingga sekarang. Untuk
itulah, tidak aneh jika pesantren telah menjadi akar pendidikan Islam di negeri
ini. Karena senyatanya, dalam pesantren telah terjadi proses pembelajaran
sekaligus proses pendidikan; yang tidak hanya memberikan seperangkat
pengetahuan, melainkan juga nilai-nilai (value). Dalam pesantren,
terjadi sebuah proses pembentukan tata nilai yang lengkap, yang merupakan
proses pemberian ilmu secara aplikatif.
dddddddddddddddddd
Setelah penggunaan masjid sudah cukup optimal,
maka kemudian dirasa perlu untuk memiliki sebuah tempat yang benar-benar
menjadi pusat pendidikan dan pembelajaran Islam. Untuk itu, muncullah lembaga
pendidikan lainnya seperti pesantren, dayah ataupun surau. Nama–nama tersebut
walaupun berbeda, tetapi hakikatnya sama yakni sebagai tempat menuntut ilmu
pengetahuan keagamaan.
Pesantren sebagai akar pendidikan Islam, yang
menjadi pusat pembelajaran Islam setelah keberadaan masjid, senyatanya memiliki
dinamika yang terus berkembang hingga sekarang. Menurut Prof. Mastuhu,
pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari,
memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan
pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.
ffff
Islaman. Dari pusat-pusat inilah kemudian
akhirnya Islam dapat berkembang dan tersebar ke seluruh pelosok Nusantara.
Perkembangan dan perluasan Islam itu tidak lain melalui para pedagang muslim,
wali, muballigh dan ulama’ dengan cara pendirian masjid, pesantren atau dayah
atau surau.
Pada dasarnya, pendidikan Islam di Indonesia
sudah berlangsung sejak masuknya Islam ke Indonesia. Pada tahap awal,
pendidikan Islam dimulai dari kontak-kontak pribadi maupun kolektif antara
muballigh (pendidik) dengan peserta didiknya. Setelah komunitas muslim daerah
terbentuk di suatu daerah tersebut, mereka membangun tempat peribadatan dalam
hal ini masjid. Masjid merupakan lembaga pendidikan Islam yang pertama muncul,
di samping rumah tempat kediaman ulama’ atau muballigh.
gggg
A. Pesantren;
Akar Pendidikan Islam di Indonesia
Terkait
kemunculan dan masuknya Islam di Indonesia, sampai saat ini masih menjadi
kontroversi di kalangan para ilmuwan dan sejarawan. Namun demikian, mayoritas
dari mereka menduga bahwa Islam telah diperkenalkan di Indonesia sekitar abad
ke-7 M oleh para musafir dan pedagang muslim, melalui jalur perdagangan dari
Teluk Parsi dan Tiongkok. Kemudian pada abad ke-11M sudah dapat dipastikan
bahwa Islam telah masuk di kepulauan Nusantara melalui kota-kota pantai di
Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Maluku. Dan, pada abad itu pula muncul pusat-pusat
kekuasaan serta pendalaman studi ke-
hhhh
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini terdapat beberapa rumusan
masalah yang akan dicoba untuk dikaji dan digali, sehingga diharapkan mampu
menambah wawasan terkait pendidikan Islam dan eksistensinya di Indonesia.
Beberapa rumusan masalah tersebut di antaranya:
1. Bagaimana akar dan awal mula pendidikan
Islam di Indonesia?
2. Apa saja jenis lembaga-lembaga pendidikan
Islam di Indonesia?
3. Bagaimana perkembangan pendidikan Islam di
Indonesia
PENDIDIKAN
ISLAM DI INDONESIA
kkkk
Islam bonafide,
mulai Sekolah Tinggi Islam sampai Universitas Islam, semua tak luput dari
dinamika dan perubahan demi mencapai perkembangan dan kemajuan yang maksimal.
Pertanyaannya kemudian adalah sudahkah kita mencermati dan memahami bagaimana
kemunculan dan perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, untuk kemudian dapat
bersama-sama meningkatkan kualitasnya, demi tercipta pendidikan Islam yang
humanis, dinamis, berkarakter sekaligus juga tetap dalam koridor Alqur’an dan
Assunah.
llll
Berbagai perubahan dan perkembangan dalam
pendidikan Islam itu sepatutnya membuat kita senantiasa terpacu untuk mengkaji
dan meningkatkan lagi kualitas diri, demi peningkatan kualitas dan kuantitas
pendidikan Islam di Indonesia. Telah lazim diketahui, keberadaan pendidikan
Islam di Indonesia banyak diwarnai perubahan, sejalan dengan perkembangan zaman
serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. Sejak dari awal pendidikan
Islam, yang masih berupa pesantren tradisional hingga modern, sejak madrasah
hingga sekolahlll
zzzz
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan bagian yang inhern dalam
kehidupan manusia. Dan, manusia hanya dapat dimanusiakan melalui proses
pendidikan. Karena hal itulah, maka pendidikan merupakan sebuah proses yang
sangat vital dalam kelangsungan hidup manusia. Tak terkecuali pendidikan Islam,
yang dalam sejarah perjalanannya memiliki berbagai dinamika. Eksistensi
pendidikan Islam senyatanya telah membuat kita terperangah dengan berbagai
dinamika dan perubahan yang ada.
xxxx
Keterangan :
Pewawancara :
M . Fatkhu rizqi
Nara sumber :
ustd . Imam baqir
Alamat :
RT 02 RW 02 dusun krajan Tegalsari banyuwangi
Waqaf :
tanah di bangun sebuah mushola
Penerima :
H. Muttahir
Saksi :
Tugiono , Tarmuji , Yatiman , Budi , Abdul gofur
Tahun waqaf :
2005
Tujuan
waqaf : Agar tanah yang di
waqafkan bisa menolong orang tersebut ketika di akhirat kelak
xx
cccc
NS :
Enek le. Lak seng nerimo kui jenenge H. Muttahir . saksine yo enek. Jenenge
Tugiono , Tarmuji , Yatiman , Budi , Abdul gofur .
Saya :
lak ngoten nggeh pun niku mawon seng tak tangkletne. Matur nuwun nggeh mbah ?
NS :
Iyo le
Saya :
lak ngoten kulo ajenge langsung wangsung mbah , niki mpun sonten
NS :
Iyo le
Saya :
assalamualaikum
NS :
Waalaikumsalam
vvvvv
Saya :
Amiiin. Njenengan waqof ne mushola niku tahun pinten mbah?
NS :
lak ora salah aku waqofne mushola kui pas tahun 2005
Saya :
kiro – kiro tanah seng njenengan waqofne niku ombone pinten mbah ?
NS :
Tanah seng tak waqofne kui yo sak passe bangunan mushola kui. Kiro – kiro yo 15
m musuh 13 m.
Saya :
trus pas njenengan waqof ne mushola kui , nopo enten uwong seng nerimo waqaf
utowo enten saksi – saksi ne ?
nnnn
NS :
Asline pertaname mbien niate aku sekeluarga mbangun mushola kui arep tak gawe
sholat sekeluwarga , tapi suwi tambah suwi tambah akeh uwong seng jama’ah neng
mushola kui le, trus aku sekeluwarga musyawarah arepe mem-waqofne mushola kui
neng masyarakat . Trus keluwargaku setuju kabeh. Aku yakin lak pahalane uwong –
uwong seng sholat neng mushola kui pasti mengalir neng aku lan keluwargaku.
Mugo – mugo tanah seng tak waqaf ne kui iso nulungi aku neng akhirat sok mben.
bbbb
NS :
Asline pertaname mbien niate aku sekeluarga mbangun mushola kui arep tak gawe
sholat sekeluwarga , tapi suwi tambah suwi tambah akeh uwong seng jama’ah neng
mushola kui le, trus aku sekeluwarga musyawarah arepe mem-waqofne mushola kui
neng masyarakat . Trus keluwargaku setuju kabeh. Aku yakin lak pahalane uwong –
uwong seng sholat neng mushola kui pasti mengalir neng aku lan keluwargaku.
Mugo – mugo tanah seng tak waqaf ne kui iso nulungi aku neng akhirat sok mben.
nnnn
Saya :
Mbah imam, niki kulo angsal tugas sekolah, kulo di kengken guru agama kulo mewawancarai
salah siji uwong seng mem-waqof ne tanah seng enek teng daerah e kiambak –
kiambak. Tirose ibuk, njenengan waqof ne tanah ? enggeh bener ?
NS :
Iyo le bener. Ndang sampean arepe takon takon opo
Saya :
Njenengan waqof ne tanah di damel mbangun nopo mbah ?
NS :
Mushola
Saya :
Alasane njenengan mem-waqofne tanah niku nopo mbah ?
Langganan:
Postingan (Atom)